Validasi Karya Ilmiah

Semakin maraknya kecurangan ilmiah yang dilakukan oleh oknum dosen adalah indikasi mulai terkikisnya etika dan budaya ilmiah di lingkungan lembaga pendidikan. Ketidakjujuran ilmiah merupakan tindakan yang tidak terpuji dan akan menjadi catatan sejarah kelam yang tidak sejalan dengan nilai-nilai luhur dan semangat yang ditanamkan oleh Ki Hajar Dewantara, the founding father dunia pendidikan di Indonesia.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Mendikbud telah dengan tegas mengeluarkan PermenDiknas No. 17 tahun 2010 tentang pencegahan dan penanggulangan plagiarism termasuk sanksi yang diberikan  kepada plagiator sesuai dengan derajat kecurangan yang dilakukannya. Selanjutnya dikuatkan lagi dengan surat edaran Dirjen Dikti No. 190D/T/2011 tentang validasi karya ilmiah. Sejalan dengan itu, Universitas Udayana, telah melakukan langkah langkah antisipasi plagiat dengan mengembangkan instrumen pencegahan dan penanggulangan plagiarism di Unud dengan harapan dapat mencegah plagiarisme yang terjadi di lingkungan Unud.

Di sisi lain, kebijakan DIKTI juga dengan tegas menyebutkan bahwa apabila terbukti ditemukan kecurangan ilmiah termasuk plagiat pada karya Ilmiah dosen yang dipergunakan untuk kenaikan pangkat, maka sanksi yang diberikan tidak hanya kepada si pelaku, tetapi juga kepada institusinya di mana seluruh kenaikan pangkat dan jabatan akademik yang terjadi pada tahun yang sama akan dianulir. Untuk mencegah dan menghindari hal tersebut, khususnya sanksi kepada institusi, maka telah dikeluarkan Peraturan Rektor Unud No. 2 tahun 2012 tentang validasi karya Ilmiah yang mengatur bahwa semua karya Ilmiah dosen yang akan dipergunakan untuk kebutuhan akademik (kenaikan pangkat dan jabatan akademik) harus divalidasi secara berjenjang dari Fakultas/PPS sampai pada Universitas yang dilakukan oleh Tim Validasi Fakultas/PPS serta Tim Validasi Unud. Langkah ini diharapkan dapat menumbuhkan etika dan budaya ilmiah ke arah yang lebih baik serta dapat mencegah terjadinya ketidak jujuran ilmiah di lingkungan Unud